BLANTERVIO103

Rashomon - Akutagawa Ryunosuke

Rashomon - Akutagawa Ryunosuke
9/21/2019
Rashomon
oleh Akutagawa Ryūnosuke


Rashomon - Akutagawa Ryunosuke

SASTRADUNIA.COM | Pada suatu senja, seorang Genin[1] berteduh menunggu hujan reda di bawah Rashomon.[2] 

Selain dia tidak ada seorang pun di bawah gerbang yang luas itu. Hanya ada seekor belalang yang bertengger di tiang bulat besar warna merah yang sudah mengelupas di sana-sini. Karena Rashomon terletak di jalan besar Shujaku, mestinya paling tidak ada dua-tiga orang mengenakan ichimegasa[3] atau momieboshit[4] yang berteduh di situ. Tapi tidak ada orang lain selain lelaki itu.

Kota Kyoto sesepi itu karena beberapa tahun silam didera bencana beruntun, mulai dari gempa bumi, angin puyuh, kebakaran, dan paceklik. Karena itu Kyoto jadi senyap dan porak-poranda. Menurut catatan kuno, patung Buddha dan peralatan upacara agama Buddha lainnya hancur, dan kayu-kayunya yang masih tertempel cat dan perada ditumpuk di pinggir jalan, dijual sebagai kayu bakar. Karena kondisi Kyoto seperti itu, maka perbaikan Rashomon sulit diharapkan. Rubah dan cerpelai, juga para pencoleng, memanfaatkan reruntuhan sebagai tempat tinggal. Akhirnya, lazim membawa dan membuang mayat tak dikenal ke gerbang itu. Karena bila senja telah tiba suasananya menjadi menyeramkan, tidak ada orang yang berani mendekat. 

Sebagai gantinya, burung-burung gagak berdatangan dari berbagai penjuru. Di siang hari burung-burung itu terbang mengitari shibi[5] sambil berkoak-koak. Seiring memerahnya langit di atas gerbang karena senja menjelang, kawanan burung gagak itu tampak seperti taburan butiran-butiran wijen. Tentu saja mereka datang untuk menyantap daging mayat-mayat yang ada di tempat itu. Tapi hari itu tak tampak seekor gagak pun, barangkali karena sudah terlalu larut. Hanya saja di beberapa bagian tangga batu yang mulai rusak dan di sela-selanya ditumbuhi rumput tinggi tampak bercak-bercak putih, ceceran kotoran gagak. Genin, yang berpakaian[6] lusuh warna biru tua, duduk di anak-tangga ketujuh, paling atas, termangu menatap hujan sambil mengopek-ngopek jerawat besar di pipi kanannya.

Tadi pengarang mengungkapkan bahwa Genin itu sedang menunggu hujan reda. Namun, kalaupun hujan reda ia tidak tahu harus berbuat apa. Biasanya, tentu ia harus kembali ke rumah tuannya, tapi ia telah dipecat empat-lima hari lalu. Sebagaimana telah diungkapkan di depan, pada saat itu Kyoto mengalami kemunduran yang cepat. Genin itu, yang dipecat oleh seorang tuan yang telah mempekerjakannya selama bertahun-tahun, tidak lain merupakan riak kecil kemunduran itu. Maka ketimbang mengatakan "Genin menunggu hujan reda", lebih tepat mengatakan "Genin yang terkurung hujan tak tahu harus pergi ke mana". Lagi pula cuaca hari itu sangat mempengaruhi batin Genin. Hujan yang turun sejak sekitar pukul empat sore belum ada tanda-tanda mau reda. Sementara itu, sambil mengikuti pikirannya yang mengembara tak menentu karena khawatir dan tak berdaya atas nasibnya esok hari, tanpa sengaja ia mendengarkan tetes hujan yang turun di Jalan Shujaku. 

Hujan menyelimuti Rashomon, dari kejauhan terdengar suara hujan yang semakin deras. Senja semakin kelam, dan ketika ia mendongak tampaklah ujung genting yang mencuat dari atap gerbang menyangga awan berat kehitaman. 

Genin tak punya waktu untuk memilih cara menyelesaikan satu masalah yang tak mungkin dipecahkan. Kalaupun bisa memilih, yang ada hanyalah mati kelaparan di emperan atau di tanah pinggiran jalan. Kemudian mayatnya dibawa ke atas gerbang ini dan dicampakkan seperti seekor anjing. Seandainya tidak memilih... setelah pikirannya berputar-putar akhirnya ia sampai pada satu kesimpulan untuk menjadi pencuri. Tapi, "seandainya" ini sampai kapan pun tetap saja "seandainya". Meskipun yakin dirinya tidak punya pilihan, untuk memecahkan masalah "seandainya" tadi, tidak muncul keberanian dalam dirinya untuk dengan tegas membenarkan pikiran yang muncul belakangan bahwa "tidak ada yang bisa dilakukannya selain menjadi pencuri".

Setelah bersin dengan keras ia pun bangkit perlahan. Dinginnya senja di Kyoto menjadikan dia rindu hangatnya tungku arang. Angin menyelinap semaunya di antara tiang-tiang gerbang bersama gelap malam. Belalang yang tadi bertengger di tiang merah pun sudah pergi entah ke mana. 

Genin memandang ke sekeliling gerbang sambil mengerutkan lehernya, dan mengangkat bagian pundak pakaian birunya yang menutupi baju dalam tipis warna kuning. Ia memutuskan untuk melewati malam di situ jika ada tempat yang terlindung dari angin dan hujan, dan tak terlihat oleh Rashomon siapa pun. Ia beruntung menemukan tangga lebar berpernis merah yang menuju ke menara di atas gerbang. Ia berpikir, kalaupun ada orang di atas paling juga hanya mayat. Kakinya yang bersandal jerami menginjak anak tangga paling bawah, sambil berhati-hati menjaga agar pedang di pinggangnya tidak terlepas dari sarungnya.

Ketika mencapai pertengahan tangga menuju menara beberapa menit kemudian, ia mengintai keadaan di atas sambil menahan napas dan mengendap-endap seperti seekor kucing. 

Seberkas cahaya dari atas menara menerpa pipi kanannya. Pipi dengan jerawat merah bernanah di antara cambangnya yang pendek. Sejak semula Genin mengira paling-paling hanya mayat saja yang ada di dalam menara. Tapi setelah menaiki dua atau tiga anak tangga, ia melihat seberkas api yang dinyalakan oleh seseorang, dan sepertinya orang itu menggerakkannya ke sana-kemari. Ia langsung mengetahuinya, karena cahaya kuning suram bergoyang-goyang menyinari langit-langit yang dipenuhi jaring laba-laba. Orang yang menyalakan api di atas Rashomon di malam hari dan hujan ini tentu bukan sembarangan. 

Genin merayap seperti seekor cicak di anak tangga terjal tanpa mengeluarkan suara. Akhirnya ia mencapai anak-tangga teratas. Sambil berusaha tetap tiarap, ia menjulurkan leher sebisanya, mencoba mengintip ke dalam menara dengan perasaan takut-takut. 

Sebagaimana desas-desus yang didengarnya selama ini, terlihat beberapa mayat buangan bergelimpangan di dalam menara. Tapi ia tidak tahu jumlahnya karena cahaya temaram. Ia hanya melihat samar-samar ada yang telanjang dan ada pula yang berpakaian. Tentu saja di antara mayat-mayat itu, selain mayat lelaki, ada mayat perempuan. Mereka berserakan di lantai, mirip boneka-boneka dari tanah, ada yang mulutnya menganga atau tangannya terentang, sampai-sampai tak terbayangkan bahwa sebelumnya mereka adalah manusia yang pernah hidup. Bagian tubuh yang lebih tinggi, seperti bahu dan dada, diterpa cahaya temaram, sedangkan bagian lainnya lenyap ditelan bayangan, dan diam bagai bisu abadi.

Tanpa sadar Genin menutup hidung karena tercium bau menyengat mayat-mayat yang membusuk itu. Tapi, beberapa saat kemudian ia sudah lupa menutup hidung dengan tangannya. Dorongan perasaan yang kuat menjarah perhatiannya dan mengalahkan indera penciumannya. 

Saat itu, untuk pertama kalinya, Genin melihat sesosok manusia berjongkok di antara mayat-mayat. Sosok itu adalah seorang perempuan tua, berbaju kecokelatan, tubuhnya pendek, kurus, berambut putih, mirip seekor monyet. Dengan oncor dari potongan kayu cemara di tangan kanannya, perempuan tua itu memandangi wajah sesosok mayat. Karena rambutnya panjang, mungkin mayat itu mayat seorang perempuan.

Karena lebih dikuasai rasa takut ketimbang rasa ingin tahu, beberapa saat lamanya bahkan untuk bernapas sekalipun ia tak ingat. Meminjam istilah para penulis zaman dulu, ia merasa rambut di kepala dan tubuhnya meremang. Perempuan tua itu menancapkan oncor kayu cemara di celah lantai papan, kemudian menaruh kedua belah tangannya pada leher mayat yang sejak tadi dipandanginya. Perempuan tua itu mulai mencabuti rambut panjang si mayat helai demi helai, persis seperti seekor monyet sedang mencari kutu di tubuh anaknya. Sepertinya rambut itu tercabut oleh gerakan tangannya. 

Seiring dengan tercabutnya rambut helai demi helai, perasaan takut dalam diri Genin sedikit demi sedikit lenyap, dan bersamaan dengan itu pula kebenciannya terhadap nenek itu memuncak. Mungkin tidak tepat lagi jika dikatakan bahwa kebencian itu hanya terhadap si nenek, melainkan terhadap segala tindak kejahatan yang semakin menderas menit demi menit. Jika saat itu seseorang bertanya kepadanya apakah ia memilih mati kelaparan atau menjadi pencuri, sebagaimana yang muncul di benak lelaki di bawah gerbang tadi, sangat boleh jadi ia akan memilih mati kelaparan. Kebenciannya terhadap kejahatan membara bagai potongan kayu cemara yang ditancapkan oleh si nenek ke lantai. 

Tentu saja Genin tak tahu kenapa nenek itu mencabuti rambut mayat. Jadi secara rasional ia tak tahu harus menilai baik atau buruk perbuatan itu. Tapi bagi Genin, perbuatan mencabuti rambut mayat di Rashomon pada malam hujan itu sudah merupakan kejahatan tak termaafkan. Pasti ia sendiri lupa bahwa beberapa saat yang lalu terlintas benaknya untuk menjadi pencuri. 

Genin lantas menghimpun tenaga pada kedua kakinya, serta-merta melompat dari tangga. Sambil menggenggam gagang pedang ia menghampiri nenek tua itu dengan langkah lebar. Si nenek terkejut bukan kepalang. Sekilas ia melihat ke arah Genin, dan saking kagetnya seketika itu pula ia terlonjak bagai dilontarkan dengan ketapel.

"Hei... mau ke mana kau?" hardik Genin seraya mencengkeram tangan si nenek yang bermaksud melarikan diri, dan saking paniknya tersandung mayat yang ada di situ. Ia masih berusaha kabur, namun Genin mendorongnya kembali. Beberapa saat mereka bergumul di antara mayat-mayat tanpa mengeluarkan kata-kata. Tapi tentu saja sejak awal sudah jelas siapa yang lebih unggul. Akhirnya Genin mencengkeram lengan si nenek, kemudian memelintir dan menghempaskannya dengan paksa ke lantai. Lengan nenek itu kurus-kering tinggal tulang-belulang, seperti kaki ayam. 

"Apa yang sedang kau lakukan? Jawab...! Kalau tak mau mengaku...." 

Genin melepaskan cengkeramannya, seraya menghunus pedang baja putih berkilau dan mengacungkannya ke depan mata si nenek. Tapi, nenek tua itu tetap bungkam. Kedua tangannya gemetar hebat, napasnya terengah, matanya membelalak seperti hendak melompat keluar dari kelopaknya dan bungkam seribu bahasa seperti orang bisu. Melihat hal ini, untuk pertama kalinya, dengan jelas Genin menyadari bahwa hidup-mati nenek itu berada dalam genggamannya. Kesadaran ini, tanpa disadari, telah membuat reda kemarahannya yang membara, dan yang tersisa hanyalah perasaan puas dan bangga yang menyejukkan hati. Sambil menatap nenek itu, Genin berkata dengan nada suara sedikit lebih lunak.

"Aku bukan petugas Badan Keamanan. Aku kebetulan lewat di dekat gerbang ini. Maka aku tidak akan mengikat atau melakukan tindakan apapun terhadapmu. Kau cukup mengatakan sedang melakukan apa di sini." 

Nenek itu lalu membuka matanya lebih lebar lagi, menatap tajam ke arah wajah Genin bagai burung pemakan daging. Si nenek menggerakkan bibirnya yang hampir menyatu dengan hidung karena kerut, seperti mengunyah sesuatu. Terlihat jakunnya yang lancip bergerak-gerak pada tenggorokannya yang kurus. Dari tenggorokannya itu keluar suara seperti suara burung gagak sambil terengah-engah. 

"Aku mencabuti rambut.... Aku mencabuti rambut, untuk membuat cemara." 

Genin kecewa dengan jawaban sederhana dan di luar dugaannya itu. Bersamaan dengan rasa kecewa yang muncul, perasaan benci dan terhina yang menyengat melesap masuk ke dalam dadanya. Barangkali rasa gusarnya dapat ditangkap oleh nenek itu. Sebelah tangan nenek itu masih memegang rambut panjang yang dicabutinya dari kepala-kepala mayat, dan seperti bergumam ia berkata dengan suara parau. 

"Ya... memang, mencabuti rambut orang yang sudah mati mungkin bagimu merupakan kejahatan besar. Tan mayat-mayat yang ada di sini semuanya pantas diperlakukan seperti itu. Perempuan yang rambutnya barusan kucabuti biasa menjual daging ular kering yang dipotong-potong sekitar 12 sentimeter ke barak penjaga dan mengatakannya sebagai ikan kering. Kalau tidak mati karena terserang wabah penyakit, pasti sekarang pun ia masih menjualnya. Para pengawal katanya kerap membeli, dan mengatakan rasanya enak. Perbuatannya tidak dapat disalahkan, karena kalau tidak melakukan itu ia akan mati kelaparan. Ia terpaksa melakukannya. Jadi, yang kulakukan pun bukan perbuatan tercela. Aku terpaksa melakukannya, karena kalau tidak aku pun akan mati kelaparan. Maka, perempuan itu tentunya dapat memahami pula apa yang kulakukan sekarang ini." 

Genin menyarungkan pedangnya. Ia mendengarkan ocehan nenek itu dengan dingin sambil menggenggam gagang pedang. Tangan kanannya terus saja sibuk mengopek jerawat merah besar dan bernanah di pipinya. Namun, ketika mendengarkan omongan itu di batin Genin muncul suatu keberanian yang belum pernah dirasakannya ketika duduk di bawah gerbang beberapa saat lalu. Keberanian yang dirasakannya saat ini samasekali bertolak-belakang dengan keberanian yang dirasakannya ketika naik ke menara dan kemudian menangkap si nenek. Bukan berarti ia tidak ragu lagi untuk menjadi pencuri atau mati kelaparan. Saat itu hampir tak terbersit dalam hati Genin untuk mati kelaparan. Ia membuang jauh-jauh pikiran itu.


"Kau yakin begitu?" tanya Genin dengan nada mengejek ketika nenek tua itu selesai bicara. Ia maju selangkah seraya menarik tangan kanannya dari jerawat, lalu sambil mencengkeram leher baju perempuan tua itu ia berkata geram. 

"Kalau begitu jangan salahkan aku jika aku merampokmu. Aku pun akan mati kelaparan kalau tidak melakukannya. 

Dengan cepat Genin merenggut pakaian yang dikenakan perempuan tua itu. Lalu dengan kasar menarik tangan perempuan yang berusaha mencengkeram kakinya, dan menyepaknya hingga jatuh menerpa mayat-mayat. Hanya lima langkah saja untuk mencapai mulut tangga. Dengan mengempit pakaian kekuningan hasil rampasannya, dalam sekejap Genin sudah menuruni tangga curam menembus kegelapan malam. 

Tubuh telanjang nenek tua yang roboh seperti orang mati itu baru bisa bangkit dari onggokan mayat-mayat beberapa saat kemudian. Sambil menggerutu dan mengerang ia merangkak mencapai mulut tangga dibantu cahaya obor yang masih menyala. Dari tempat itu ia melongok ke bawah gerbang dengan ubannya yang pendek menjuntai. 

Di luar hanya ada kelam malam. 
Tak ada yang tahu ke mana Genin pergi.

Catatan
1. Genin: Samurai kelas rendah. 
2. Rashomon sering dikaitkan dengan Rajomon, pintu gerbang pada zaman Heian (794-1185), sekarang terletak di Perfektur (daerah setingkat provinsi) Nara. Mon berarti gerbang. Ketika itu ibukota Jepang terletak di Nara.
3. Ichimegasa: Topi dari kulit bambu, awalnya dikenakan oleh perempuan pedagang pada zaman Heian. Bentuknya mirip caping. 
4. Momieboshi: Sejenis topi berwarna hitam, biasa dikenakan oleh kaum bangsawan.
5. Shibi: Hiasan pada tepian atap yang terbuat dari batu atau genteng bentuknya mirip ekor ikan.
6. Dalam teks aslinya disebutkan ao, pakaian yang biasa dikenakan oleh samurai golongan empat ke bawah.


-Penerjemah: Bambang Wibawarta dalam Rashomon, Kumpulan Cerita Akutagawa Ryūnosuke, KPG, Jakarta, 2008

MARI BERBAGI:
Editor

TAMBAHKAN KOMENTAR

5700840368070671462